Melawan Lupa, Catatan Yang Tercecer Dari Perumusan Hari Lahir Soppeng

Berita2,409 views

OLeh : H. Ahmad Saransi

CENDEKIA News. Com. Soppeng — Hari jadi Soppeng yang diperingati setiap tanggal 23 Maret tidak lahir dengan sendirinya, ia bukan benda “manurung” yang tiba-tiba jatuh dari langit melainkan hari jadi itu melalui sebuah proses yang panjang dan berliku.


Rumusan hari jadi Soppeng bermula dari sekelompok pemuda Soppeng yang tergabung dalam Sanggar Merah Putih. Mereka itu adalah Mukhlis Yasin (ketua Sanggar Merah Putih), Agus Setiawan PH, Rauf (Wakil Ketua); Husein Junaid (Sekretaris Umum); Andi Amriadi Alie dan Agus Iskandar (Anggota Dewan Pertimbangan Organisasi). Selaku pemuda yang memiliki idealisme yang tinggi terhadap daerahnya, mereka senantiasa gelisah mencari jati dirinya selaku warga Soppeng. Untuk menjawab kegelisahannya itu akhirnya menjelang akhir masa jabatan Bupati Soppeng Abbas Sabbi. SH pada tahun 1995 mereka bersepakat untuk menelusuri dan menentukan lahir daerahnya – Soppeng.


Sebagai langkah awal mereka terlebih dahulu menggagas sebuah seminar di Soppeng dengan tema “Soppeng Kini dan Esok” dengan menghadirkan narasumber yang cukup terpelajar, yaitu : Prof. Dr. Faharuddin Ambo Enre dan Prof. Dr. Rahman Rahim.


Setahun setelah itu, tepatnya pada tahun 1996 mereka menghadap Bupati Soppeng yang baru terpilih kala itu H. Andi Paeruddin Saisal untuk menyampaikan gagasannya dalam rangka melakukan seminar penentuan hari jadi Soppeng.

Gagasan ini direspon positif oleh H. Andi Paeruddin Saisal selaku Bupati dengan mengutus terlebih dahulu secara resmi lima orang aktifis Sanggar Merah itu. Dengan dukungan dana dan fasilitas kendaraan yang tersedia dari Pemda kelima orang itu ditugaskan melakukan penelusuran dan studi banding ke lima Kabupaten yang telah menentukan hari jadinya,

Masing-masing daerah yang dimaksud adalah : Kabupaten Luwu, Bone, Gowa, Wajo dan Sinjai. Disamping melakukan studi banding mereka juga melakukan penelusuran fakta-fakta sejarah yang berkaitan dengan sejarah Soppeng seperti penelusuran naskah lontara di Kabupaten Barru dan daerah sekitarnya.

Sekembali dari melakukan penelusuran, mereka berkumpul kembali menyusun laporan rumusun hari jadi Soppeng. Untuk memperlancar pembuatan laporan ini maka ditugaskan kepada Agus Iskandar untuk mengetiknya mengingat bahwa beliau ketika itu punya pengalaman dalam perumusan hari jadi Sulsel.

Setelah laporan itu selesai, maka mereka kembali bertemu dengan Bupati Andi Paeruddin Saisal untuk menyerahkan hasil laporannya. Dalam pertemuannya itu, mereka menyampaikan tindak lanjut untuk melakukan seminar, namun mereka tak menyangka Bupati menjawabnya, “tidak ada dana untuk seminar itu”

mengingat sebelumnya Bupati sangat merespon dengan baik. Tak lama setelah mendengar jawaban itu mereka pun tak lagi berbincang dengan panjang lebar bahkan mereka pamit dan bergegas pulang laksana anak panah yang terlepas dari busurnya.

Apakah laporan rumusan itu sudah tercecer ? Entahlah mungkin sudah ada orang yang memungutnya sebab setahun kemudian, tepatnya pada tahun 2000 Pemda Soppeng melakukan seminar penentuan hari jadi Soppeng dengan panitia yang berbeda dan tanpa menghadirkan seorang pun dari penggagas pencarian hari jadi Soppeng itu.

Lalu apakah penggagas itu ikut juga tercecer? Sesungguhnya mereka tidak pernah tercecer, mereka adalah pemuda yang sudah ditempa semangat merah putih, yang dalam dirinya mengalir darah pengabdian semerah darah dan seputih kapas cintanya kepada tanah ancajingenna Soppeng. Digahayu Soppeng yang ke 762 tahun.

Editor : Agus Wittiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *