“Andul” Dan Bandul Politiknya(Catatan Jejak Perjalanan Politik H. Andi Kaswadi Razak, SE)

Berita1,594 views


Oleh : H. Ahmad Saransi


CENDEKIA News. Com. Soppeng — ANDUL sebuah akronim dari Andi Dulli. Andul adalah sapaan akrab buat Bupati Soppeng H. Andi Kaswadi Razak terutama dalam keluarga. Andul dalam bahasa Arab adalah petunjuk atau pemberi petunjuk, atau pemimpin. Maka tidak salah kalau kalangan keluarganya dan masyarakat Soppeng menyebutnya Andul sebagai sebuah doa atau harapan untuk menjadi pemimpin yang amanah di bumi Latemmamala – Soppeng.

Olehnya itu, tanpa mengurangi rasa hormat dan penghargaan saya kepada Bupati Soppeng H. Andi Kaswad Razak, saya menggunakan nama Andul dalam tulisan ini.
Pada masa menjelang periode keduanya (2020) memimpin Soppeng, diluar dugaan Andul memilih Ir. H. Lutfi Halide sebagai wakil yang tak lain adalah seteru politiknya pada pilkada tahun 2015 lalu. Sontak saja orang-orang dekatnya atau pendukung militannya pro dan kontra atas pilihannya itu, namun Andul yang dikenal dengan keteguhannya memegang prinsip itu berhasil meyakinkan orang dekatnya dan terutama pemilih militannya atas pilihannya itu.

Memasuki periode kedua tahun 2020 – 2024 menahkodai Soppeng masyarakat Soppeng masih menaruh kepercayaan sangat tinggi kepada Andul, hal ini tergambar pada tingkat partisipasi politik masyarakat Soppeng pada hasil perhitungan suara Pilkada Soppeng 2020, Andul (AKAR) LHD menang 86, 32% vs Koko (kotak kosong) sebanyak 13, 68%.

Alasan mendasar Andul Menjatuhkan pilihannya pada Ir. H. Lutfi Halide sebagai wakilnya untuk menciptakan harmoni masyarakat Soppeng yang selama ini terbelah oleh pilihan politik mereka. Dimana dalam pilkada langsung pertama sejak tahun 2005 pertarungan perebutan 01 antara Drs. H. Andi Soetomo dengan Drs. H. Andi Harta Sanjaya; Drs. H. Andi Soetomo dengan H. Andi Kaswadi Razak (2010; Andi Kaswadi Razak dengan Ir. Lutfi Halide (2015). Kesemuanya itu menyisakan luka-luka sosial yang dalam buat masyarakat Soppeng dan sewaktu-waktu bisa meledak.

Untuk itu pilihan gerakan politik Andul merangkul “kompetitornya” itu suatu langkah bijak yang patut kita apresiasi. Ibaratkan bandul jam, gerak harmoninya selama ini terjadi gerak tidak beraturan. Oleh sebab itu untuk menciptakan harmoni masyarakat Soppeng maka Andul berani menanggalkan ego sentrismenya untuk melakukan langkah bijak merangkul seterunya dan menjadikannya wakil.

Andul yang jamak diketahui dalam menjalankan roda kepemimpinannya ia senantiasa menjadikan sejarah dan budaya Soppeng sebagai referensi, Andul tidak pongah dan terjebak pada romantisme sejarah masa lampau Soppeng, melainkan ia senantiasa menjadikan sejarah sebagai referensi yang berharga dan menjadikannya guru yang terbaik sebagaimana diungkapan sendiri oleh Andul dalam sebuah pembicaraan.(Hotel Claro, jumat malam 26 Pebruari 2021).

Berkaca dari perjalanan sejarah kerajaan Soppeng, pernah terjadi konflik sosial antara Kerajaan Soppeng Riaja (La Mataesso Puwan Lipué Patolaé) dengan Kerajaan Soppeng Rilau (La Makkarodda To Tenribali Petta Mabbéluaé), dan pihak La Makkarodda mengalami kekalahan kemudian hijrah ke kerajaan Bone untuk mencari sekutu melawan La Mataesso. La Mataesso yang bijak itu berkali-kali berusaha membujuk La Makkarodda agar sudi kembali ke negerinya Soppeng Rilau (Mario) dan memegang tampuk pemerintahan, namun La Makkarodda menolak mentah-mentah ajakan itu, “Bessing passuka, bessing topa paréwekka”. Maksudnya , tombak (perang) yang membuat saya keluar kerajaan Soppeng maka tombak pulalah yang akan membawaku kembali.

Demikianlah La Makkarodda tetap melanjutkan usahanya untuk mencari sekutu melawan Kerajaan Soppeng Riaja, bahkan La Makkaroda melakukan politik perkawinan dengan melamar We Tenripakkua adik perempuan Raja Bone untuk mendapatkan dukungan dari kerajaan Bone.

Mendengar kabar bahwa La Makkarodda telah menikah dengan We Tenripakkua maka La Mataesso kembali mengirim utusan untuk menemui La Makkarodda untuk melakukan perundingan agar dia sudi kembali ke Soppeng Rilau dan memegang tampuk pemerintahan. Namun ajakan itu ditolak kembali oleh La Makkarodda.
Namun tidak lama berselang setelah perundingan itu, tiba-tiba La Makkarodda berbalik haluan, dan dia berinisiatif melakukan perundingan dengan La Mataesso. Dalam lontara perundingan itu dikisahkan :


“…berkatalah Mabbeluae, adapun kedatangan saya ini, telah kuhanyutkan dalam deras arus sungai untuk tidak akan mengulangi kembali perbuatan seperti yang lalu-lalu yaitu berniat tidak baik. Mengenai soal tahta kerajaan di Soppeng, aku telah bersumpah dalam hati untuk tidak menduduki lagi. Maka tiba-tiba Puwang Lipue memegang tangan Mabbeluae sambil berkata, “saya kecualikan apabila terjalin jodoh antara anak-anak kita kelak”. Hal itu disepakati bersama kedua belah pihak.

Hasil perundingan itu membawa konsekuensi logis bagi terbangunnya tatanan baru di Soppeng, dimana kedua kerajaan kembar itu, Kerajaan Soppeng Riaja dan Kerajaan Soppeng Rilau lebur menjadi satu yaitu terbentuknya tonggak sejarah sebagai Kerajaan Soppeng dibawah satu payung kekuasaan La Mata Esso Puwang Lipue sebagai Datu Soppeng ke 11.

Tiga Abad lebih setelah bandul harmoni politik itu berdentang yang ditabuh oleh La Mata Esso, dimana gaunnya melintasi ruang dan waktu. Kini gaunnya kembali mengalun dalam irama jaman yang berbeda – pilkada langsung kapitalis.
Mampukah Andul melampau tonggak sejarah yang telah dicapai oleh La Mata Esso yang telah menggabungkan antara Soppeng Riaja dan kerajaan Soppeng Rilau yang lebur menjadi satu yaitu kerajaan Soppeng ?

Andul pun telah menjawabnya dengan ada nagau (sesuai kata dengan perbuatan), ia telah menorehkan tinta emas dalam perjalanan sejarah Soppeng, ia telah mengimplementasikan ajaran moral etik yang sangat tinggi, “sirui menre tessi rui no” (saling mengangkat dan tak saling menjatuhkan). Itulah referensi sejarah yang sangat berharga bagi generasi sekarang maupun yang akan datang utamanya menjelang Pilkada di Soppeng langsung pada tahun 2024 yang akan datang.

Editor : Agus Wittiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *