Durian Asal Desa Umpungeng Kabupaten Soppeng Kini Merambah Ke Manca Negara

Berita44 views

CENDEKIA News. Com. SOPPENGDesa Umpungeng, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, bakal dikembangkan menjadi Desa agrowisata berbasis komoditas durian.

Potensi ini didukung kondisi geografis yang ideal serta pergeseran komoditas pertanian masyarakat setempat.

Berada di ketinggian lebih dari 1.500 meter di atas permukaan laut (DPL), Desa Umpungeng memiliki suhu udara yang sejuk dengan panorama dataran tinggi yang indah.

Tanah yang subur juga menjadi faktor utama yang mendukung pengembangan sektor pertanian dan perkebunan di wilayah ini.

Sebelumnya, Desa Umpungeng dikenal sebagai penghasil gula aren. Bahkan, Pemerintah Desa sempat membangun tugu bergambar gula aren sebagai ikon Desa.

Selain itu, komoditas unggulan lainnya yakni cengkeh dan kopi arabika juga cukup dikenal. Namun dalam beberapa tahun terakhir, petani mulai beralih ke budidaya durian yang dinilai lebih menjanjikan secara ekonomi.

Harga jual durian di tingkat petani tergolong tinggi. Untuk jenis durian otong, harga mencapai sekitar Rp35.000 per kilogram, dengan harga per buah bisa menyentuh Rp150.000.

Sementara itu, durian jenis musang king memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi, yakni sekitar Rp150.000 per kilogram atau bisa mencapai Rp600.000 per buah.

Tingginya harga ini membuat durian asal Umpungeng diminati pedagang dari berbagai daerah.

Tidak hanya pedagang, para pecinta durian juga mulai berdatangan ke Desa ini. Hampir setiap hari, wisatawan datang berkunjung untuk menikmati sensasi wisata durian langsung dari kebunnya.

Kepala Desa Umpungeng, Salahuddin, S.Ag., menyebut tren tersebut menjadi peluang besar untuk mengembangkan Desa sebagai destinasi agrowisata unggulan di Kabupaten Soppeng.

“Potensi alam yang kita miliki serta antusiasme pengunjung menjadi modal utama. Kami terus mendorong petani untuk mengembangkan durian unggul,” ujarnya.

Dengan pergeseran komoditas ke durian, Desa Umpungeng tidak hanya diproyeksikan sebagai sentra produksi, tetapi juga sebagai destinasi agrowisata baru yang mampu menarik wisatawan dan meningkatkan perekonomian masyarakat lokal. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *