π—¦π—’π—£π—£π—˜π—‘π—š π— π—˜π—‘π—šπ—šπ—˜π— π—” π——π—œ π—›π—žπ—§π—œ π—¦π—¨π—Ÿπ—¦π—˜π—Ÿ: 𝗕𝗨π—₯π—›π—”π—‘π—¨π——π——π—œπ—‘ π—”π—‘π——π—œ, π—žπ—”π—₯π——π—œπ—‘π—š π—›π—œπ—‘π—šπ—šπ—” 𝗦𝗨π—ͺ𝗔π—₯π——π—œ π—›π—”π—¦π—˜π—‘π—š

Berita59 views

CENDEKIA News. Com. π— π—”π—žπ—”π—¦π—¦π—”π—₯ β€” Ada sisi menarik dalam konsolidasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sulawesi Selatan yang berlangsung di Makassar, Minggu (4/10/2026).

Di tengah Musyawarah Daerah HKTI Sulsel dan pelantikan Pengurus DPC HKTI dari 24 Kabupaten/Kota, nama-nama yang memiliki keterkaitan dengan Kabupaten Soppeng turut muncul dalam struktur penting organisasi tersebut.

Di tingkat provinsi Irjen Pol. (Purn.) Dr. H. Burhanuddin Andi, MH., terpilih sebagai Ketua DPD HKTI Sulsel. Sementara di tingkat Kabupaten Soppeng, Bupati H. Suwardi Haseng, SE., resmi dipercaya memimpin DPC HKTI Soppeng periode 2026–2031.

Menariknya proses pelantikan tersebut dilakukan oleh Sekretaris Jenderal DPN HKTI, Abdul Kadir Karding.

Karding memiliki hubungan keluarga dengan Soppeng melalui kedua orang tuanya yang disebut berasal dari Kecamatan Donri-Donri. Karding sendiri lahir di Donggala, Sulawesi Tengah.

Dengan demikian dalam satu momentum organisasi pertanian di Sulawesi Selatan, terdapat tiga nama yang membawa keterkaitan dengan Soppeng dalam tiga lapisan organisasi Burhanuddin Andi di tingkat provinsi, Abdul Kadir Karding di tingkat nasional, dan Suwardi Haseng di tingkat kabupaten.

π—¦π—’π—£π—£π—˜π—‘π—š π——π—”π—Ÿπ—”π—  π—£π—˜π—§π—” π—£π—˜π—§π—”π—‘π—œ π—¦π—¨π—Ÿπ—¦π—˜π—Ÿ

Kehadiran Burhanudin Andi dan Suwardi Haseng sebagai Ketua DPC HKTI Soppeng menjadi bagian dari konsolidasi besar organisasi petani di Sulsel. Komposisi pengurus kali ini juga cukup menarik karena mayoritas Ketua DPC berasal dari kepala daerah.

Bagi Soppeng posisi tersebut membuka ruang komunikasi dari tingkat kabupaten hingga provinsi, sementara struktur nasional HKTI berada dalam koordinasi Abdul Kadir Karding.

Konsolidasi ini pada akhirnya akan diuji melalui kerja nyata organisasi bagaimana HKTI memperkuat posisi tawar petani membuka akses pasar dan pembiayaan, meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, serta mendorong hilirisasi komoditas pertanian.

Jika agenda tersebut dapat diterjemahkan menjadi program konkret maka jejak Soppeng dalam struktur HKTI bukan sekadar cerita tentang asal-usul tokoh, tetapi dapat menjadi bagian dari dinamika pembangunan pertanian Sulawesi Selatan.

Dari Soppeng nama-nama itu kini berada pada ruang organisasi yang sama memperkuat sektor pertanian dan memperjuangkan kepentingan petani.

Penulis: A. Akbar, S.Pd β€” Penggiat Sosial, Ekonomi, Politik Kebudayaan β€” Alumni HMI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *